Search
Archives

cerita inspirasi

Sekitar tahun 1500, raja Milan memenggil semua pemahat patung yang terkenal di kota Milan untuk memberikan opini mengenai batu yang baru di temukan raja. Ternyata batu tersebut adalah jenis batu marmer yang keras dengan bentuk dan ukuran yang pipih. Banyak diantara para pemahat yang memberikan nasehat kepada raja untuk membuang saja batu batu itu karena percuma dan tidak mungkin untuk membuat patung yang indah dari batu tersebut. Mereka mengatakan bahwa karakter utama dari batu marmer pipih adalah jika dipahat keras batu itu akan patah dan jika dipahat dengan pelan tidak dapat dibentuk karena kerasnya. Dari semua pemahat yang hadir muncullah seorang pemahat yang bernama Michelangelo yang menyatakan siap untuk memahat batu tersebut. Banyak pemahat lain yang menertawakan dan mengejek bahwa tidak mungkin untuk membuat sebuah patung dari batu yang semestinya dibuang. Tetapi Michelangelo tetap dengan pendiriannya. Raja sangat gembira dengan kesungguhan Michelangelo dan memberikan mandate untuk mengerjakan patung tersebut.
Siang dan malam dalam kurun waktu tiga tahun Michelangelo bertekun dan sangat hati-hati mengerjakan batu itu. Perlahan-lahan batu tersebut mukai terbentuk menjadi sesosok manusia. Dengan kesabaran, keuletan, dan keinginan yang tinggi akhirnya batu tersebut selesai dipahat menjadi sebuah patung yang sangat indah dan diberi nama patung David. Banyak orang yang kagum dan aneh kenapa Michelangelo bisa mengerjakan pekerjaan yang dikatakan orang tidak mungkan. Beberapa wartawan bertanya kepada Michelangelo bagaimana dia mengerjakan pekerjaan tersebut?. Dengan rendah hati Michelangelo menjawab “saya tidak menciptakan patung David. Patung tersebut dari semula sudah berada didalam batu itu. Saya hanya membersihkan sisa-sisa batu yang menutupi patung itu untuk mengeluarkan sosok David dari batu itu”. Semua orang berdecak kagum.
Kalau dari awal Michelangelo mengiyakan pendapat sebagian besar ahli pahat di sekitarnya, tentu saja david tidak pernah terwujud. Mulailah sesuatu dengan kepercayaan pada diri anda, sebelum orang lain percaya kepada kemampuan anda. Andalah orang yang pertama kali harus percaya pada diri anda.

cerita inspirasi

Sebagai seorang siswi yang menjabat wakil ketua PMR, tentu saya terlihat dekat dengan ketua, yang tak lain adalah Rasta. Kami saling mengenal ketika masih menjadi PMR wira. Sering sharing bersama membuat kami semakin dekat. Namun sangat disayangkan. Lama-kelamaan ego kami masing-masing muncul. Perjumpaan yang semakin sering menimbulkan perdebatan di antara kami. Baik itu hal kecil sering kami perdebatkan. Meski demikian kami selalu terlihat kompak dimata teman-teman kami. Begitu kontras dengan keadaan yang sesungguhnya.
Suatu ketika kami dihadapkan dengan kenyataan bahwa hasil akhir rapat adalah dia sebagai ketua dan saya sebagai wakil ketua. Sangat sulit dipercaya bagi kami. Bagaimana mungkin kedua insan bak tikus dan kucing itu harus bekerjasama dalan satu gugus yang penting. Entah mengapa sejak saat itu ksmi sering diam-diaman dan sekalinya berbincang kami malah berdebat. Bahkan selama dua minggu setelah pelantikan.
Sempat terlintas dalam benak saya, bagaimana kami dapat menjalankan suatu organisasi jika diantara kami ada yang masih menganjal. Hari-hari berikutnya saya mencoba menyingkirkan sikap ego yang seringkali muncul jika saya ada didekatnya, begitu pula perasaan tidak mau mengalah. Namun sepertinya perjuangan saya sia-sia. Perasaan itu selalu saja muncul manakala dia berada didekat saya.
Sungguh tantangan yang begitu besar bagi saya. Saya terus mencoba mengalahkan perasaan tersebut. Berusaha focus dan menganggap dia teman terbaikku. Begitupun dia, saya melihat dia tampak sering menahan omosinya. Waktu dan keadaan mengenalkan kami tentang pentingnya kekompakan, kebersamaan, kekuatan, kepedulian, dan profesionalitas. Semua yang kami inginkan tidak akan terwujud tanpa saling mendukung, tanpa saling memotivasi, dan ego itu harus kami singkirkan sejenak saja jika kami berada dalam organisasi.
Hari-hari berikutnya kami dapat di bilang ‘mampu menyesuaikan diri’. Saya merasa kami mampu memegang amanah tersebut bersama, meski kekompakan kami hanya muncul dalam ruang lingkup organisasi. Diluar hal itu, kami tetap sebagai kucing dan tikus.
Kadang saya tersenyum, mengapa kami tak bisa akur untuk sehari saja diluar organisasi. Meskipun demikian keadaan kami, namun hal itu membuat saya mengerti pentingnya profesionalitas. Yang saya pegang bukan hanya milik saya sendiri, bukan juga milik dia seorang, tapi juga milik kami, milik anggota lainnya yang sama-sama berjuang dan terus memajukan apa yeng telah kami miliki. Seringkali ingin saya mengucapkan terimakasih kepadanya. Yang membuat saya belajar melatih emosi dan mengendalikan ego. Namun tetap saja sepertinya sulit sekali untuk saya lakukan.